Sabtu, 25 April 2015

Prasasti Badar dan Uhud



Bismillahirrahmanirrahim
Kebangkitan dan keterpurukan Islam sangat erat kaitannya dengan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam itu sendiri. Bila umat Islam seluruhnya telah memegang teguh apa yang telah disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya, niscaya kebangkitan Islam akan terus hidup kokoh dan tak akan runtuh diterjang serangan kaum kafirin, kecuali bila Allah berkehendak lain. Sebaliknya, bila umat Islam mulai melupakan ajaran agamanya sendiri, niscaya sedikit demi sedikit Islam akan runtuh dengan sendirinya, bahkan bila kaum kafir tak menyerang sekalipun. Karena memang sejatinya nyawa dari agama Islam adalah ajaran Islam itu sendiri yang telah terekam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Agama Islam adalah agama yang sempurna. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah SWT dalam QS. Al-Maidah (5):3, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” Jelas sudah bahwa Allah telah menyempurnakan agama ini. Agama ini tak perlu lagi perbaikan. Agama ini tak perlu lagi renovasi apalagi aransemen. Justru umat Islam saat inilah yang memerlukan perbaikan dan renovasi. Perbaikan keimanan dan pemahaman akan ajaran Islam serta pengamalannya. Pemahaman akan ajaran Islam yang murni, yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.
Kebangkitan Islam takkan pernah terwujud bila umat Islam sendiri masih saling menyalahkan satu sama lain. Masih saling hujat satu sama lain. Kebangkitan agama ini justru akan semakin jauh bila pemeluknya selalu berselisih dan menganggap dirinya yang paling benar, padahal kebenaran hanya ada pada Allah dan Rasul-Nya, kebenaran itu ada pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. “Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa’ (4):59)”. Maka jika semuanya merasa telah kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, hendaknya kaum muslimin menghormati perbedaan pendapat itu. Bukankah para sahabat yang sama-sama hidup pada zaman Rasul pun kadangkala berbeda pendapat? Namun bagaimana sikap para sahabat? Mereka tetap menyayangi satu sama lain karena Allah.
Berbagai rentetan peristiwa yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW hendaknya menjadi pelajaran berharga yang selalu kita ambil ibrohnya. Tentu umat Islam belum lupa dengan dua perang besar yaitu perang Badar dan perang Uhud. Perang yang begitu tersohor yang mengisi lembaran sejarah Islam dengan akhir yang saling bertolak belakang. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT telah menceritakan dengan jelas mengapa perang tersebut memiliki akhir cerita yang berbeda. 
Perang badar, perang yang membawa kemenangan bagi kaum muslimin. Padahal umat Islam yang ikut dalam peperangan berjumlah sedikit, sebagaimana yang telah Allah kisahkan dalam firman-Nya, QS. Ali Imran (3):123, “Sungguh Allah telah menolong kalian dalam perang Badar, padahal kalian dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kalian mensyukuri-Nya.”

to be continued insyaAllah...





Ibu, aku malu..

Seorang ibu dan mereka yang memiliki semangat seorang ibu, itulah orang besar sesungguhnya.


Seorang anak suatu hari meminta uang pada ibunya, setelah uang yang diberikan ayahnya padanya habis pecan ini. Namun, sang ibu menolaknya, kerena tahu uang tersebut akan digunakannya untuk main videogame dan jajan. Anak itupun marah dan merasa bahwa dirinya telah terzalimi oleh ibunya.

Di sore hari, ketika sang ibu berada di dapur untuk memasak, anak tadi menyodorkan secarik kertas pada ibunya. Lalu, sang ibupun membaca tulisan di atas kertas tersebut.

Ongkos membersihkan kamarku pekan ini = 10.000 rupiah
Ongkos disuruh pergi ke pasar berbelanja= 15.000 rupiah
Biaya untuk mengajak bermain adik= 20.000 rupiah
Ongkos bantuanku membersihkan rumah= 15.000 rupiah
Ongkos untuk prestasi yang kudapat di sekolah= 30.000 rupiah
Total biaya= 90.000 rupiah
Bayarlah haknya sebelum kering keringatnya.

Ibu melihat sang anak yang berdiri di sampingnya, ia tersenyum penuhkasih sayang lalu menulis di balik kertas anak tadi.

Biaya mengandungmu selama 9 bulan dengan kesulitannya= gratis
Harga ASI sempurna selama 20 bulan yang kuberikan padamu= gratis
Biaya perawatan dan membersihkanmu selama bertahun-tahun= gratis
Biaya begadang sepanjang malam saat engkau sakit dan mengobatimu= gratis
Biaya keletihan dan air mata saat mengasuhmu selama bertahun-tahun= gratis
Harga setiap malam saat engkau rewel, dan tidak bisa tidur= gratis
Harga setiap mainan, makanan, dan pakaian yang kau pakai hingga saat ini= gratis
Wahai anakku, kalau semua ini terkumpul, maka harga kasih sayangku padamu= gratis

Ketika sang anak selesai membaca tulisan ibunya tadi, air matanya berlinang. Lalu menatap pada ibunya dan berkata, “Ibu, maafkan aku, aku sangat cinta padamu.”

Lalu ia mengambil pena dan menulis dengan tulisan yang besar. “HUTANG YANG TAK MUNGKIN BISA TERBAYAR”

Seorang ibu dan mereka yang memiliki semangat seorang ibu, itulah orang besar sesungguhnya.

Ibu, aku malu padamu karena masih perhitungan dengan kebaikan yang kukira telah banyak kulakukan..
Ibu, aku malu karena masih banyak mengeluh. Padahal perjuanganmu yang begitu hebat dan menguras tenaga bahkan nyawa jadi taruhannya, tak pernah keluhan kau tunjukkan, justru senyuman yang senantiasa kau pamerkan..
Ibu aku malu, aku masih begini..
Ibu, aku malu..
Sebanyak apapun uang yang kumiliki, gelar panjang di belakang namaku, teman-teman yang tersebar di mana-mana, kehormatan dan kedudukanku, semua itu tak ada artinya bila aku belum mennghormatimu, belum berbakti padamu, masih malu berada di sampingmu dan membawakan belanjaan yang banyak di pasar
tak ada artinya bila jari ini masih malas memijat kakimu yang sering pegal dan nyeri..
Ibu, setetes asimupun takkan pernah bisa kubalas..
Ibu, jazakillah khoiron katsiron.. 
Ibu, maaf, tak bisa terbayarkan..

(Kisah dikutip dari majalah Elfata edisi 10 vol.13 tahun 2013)